Powered by Blogger.
RSS

Bulan dengan Cincin Hitam Raksasa



Kepada Bulan malam tadi.


Hallo, Bulan.. salam takzimku untuk kamu yang tiada pernah absen menemani malam-malamku. Walaupun sesekali kamu terlihat malu-malu dan enggan menampakkan diri, sehingga hanya pekat yang dapat aku rasakan.

Bulan, aku ingin berterimakasih kepadamu. Atas milyaran sinar yang selalu kamu bagi di malam-malam gelapku. Atas kehangatan yang senantiasa kamu selimutkan pada tubuh dinginku.

Bulan, malam tadi aku melihatmu. Bersama terpaan hawa dingin di Sabtu Malam, seperti biasa, aku memburumu di balkon lantai dua. Malam tadi aku beberapa kali mengerjapkan mata. Mencoba memastikan bahwa apa yang aku lihat tidaklah salah. Kamu, cantik malam tadi. Sempurna dengan cincin hitam raksasa yang melingkupimu. Aku terpana.

Bulan, bosankah kamu mendengar keluhku? Aku berdoa agar kamu tak akan pernah bosan mendengarku. Karena nampaknya aku belum akan menemukan muara yang akan membawaku pada kebosanan untuk menceritakan tentangnya. Tentang dia. Si empu rindu-rinduku.

Bulan, bodohkah aku yang terus-menerus merindukannya? Terus merindukannya hingga, ah, kamu tahu betul, bukan, seberapa lama aku terus-menerus merindukannya? Meskipun bagiku, ini tidaklah terasa selama itu.

Bulan, kamu tahu, bukan? Bahwa selama ini nyatanya aku hanya merindukannya. Hanya merindu. Sudah lama sekali, sejak entah kapan bahkan aku telah lupa, aku sudah tak lagi pernah benar-benar mengharapkannya hadir dalam kehidupanku. Meskipun nyatanya tetap saja, tetap saja aku selalu merindu. Merindukan dirinya.

Bulan, malam tadi kamu lebih dari sekedar cantik. Kamu menakjubkan dengan cincin hitam raksasa yang melingkupimu. Adakah kesempatan bagiku untuk menapakkan kakiku padamu, one day?

Bulan, akankah malam nanti kamu kembali datang seperti malam tadi? Menakjubkan dengan cincin hitam raksasa yang melingkupimu? Kalau iya, bolehkah aku merepotkanmu kembali untuk yang kesekian kalinya? Kuanggap kau mengizinkan aku.

Bulan, dapatkah kau katakan padanya? Kepada dia si pemilik rindu-rinduku. Malam nanti ketika kamu kembali datang dengan cincin hitam raksasa yang melingkupi, katakan padanya bahwa aku masih selalu merindukannya. Katakan padanya bahwa merindukannya masih menjadi ibadah rutin yang aku jalani setiap harinya.

Katakan, bahwa aku pun hampir putus asa karena tak kunjung menemukan alasan agar aku dapat berhenti merindukannya. Tidak. Bukan berarti bahwa dengan terus merindukannya aku mengharapkannya kembali hadir dalam hidupku. Memenuhi keseharianku. Aku hanya merindukannya. Merindukannya dengan pasti.

Bulan, sampaikanlah pada si empu rindu-rinduku itu dengan cincin hitam raksasamu seperti malam tadi. Bahwa aku tak lagi mengharapkan kehadirannya dalam hidupanku. Aku hanya belum tahu bagaimana harus mengakhiri untuk merindukannya. Maka, mintakanlah izin kepada si empu rindu-rinduku itu, agar aku tetap dapat merindukannya. Hingga suatu saat nanti ketika aku telah menemukan muara pemberhentian untuk merindukannya.


Takzimku,
Gadis yang selalu memburumu di malam-malam dingin.


PS: Selamat Merah Muda Bulannya Si Empu Rindu-Rinduku, Bulan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

2 komentar:

Bukan Blog Biasa said...

Jarang-jarang nemu surat puitis gini, hebat kak :)

Marlina said...

ah, terima kasih. masih belajar kok :)

Post a Comment