Kamu yang menerima surat pertamaku…
Hallo.. adakah kebosanan dalam dirimu karena aku yang
tiada henti masih terus saja berotasi padamu?
Kembali ku layangkan surat padamu, hanya beberapa hari
setelah surat pertama itu. Entah bagaimana sebenarnya skenario Yang Maha Oke
itu untuk kita berdua, aku dan kamu sehingga rasanya beberapa hari terakhir ini
tak henti-hentinya aku ternganga, atas jalannya skenario yang sepertinya
mencoba mencandaiku.
Hari itu, di penghujung bulan pertama tahun ini, dengan
serpihan keberanian yang coba aku pungut satu persatu, aku memutuskan mengirim
surat untukmu. Sekalipun surat itu tak langsung kutujukan padamu, tapi aku tahu
kalau pada akhirnya surat itu akan sampai kepadamu –sama sepertiku yang selalu
dengan mudah mengetahui apa yang kamu lakukan, kamu pun begitu terhadapku. Dan
terang saja setelah surat itu sampai di tanganmu, maka terkuak sudah apa-apa
yang selama ini masih belum sempat aku nyatakan secara langsung terhadapmu. Ada
sedikit kelegaan menyadari bahwa pada akhirnya pernyataan itu sampai pada
dirimu. Perlahan kesesakkan yang membuncah di dadaku mulai melolosakan diri
satu-persatu.
Di suratku kali ini, aku kembali untuk menyatakan hal
yang tidak akan dengan mudah dapat aku sampaikan padamu secara langsung. Maka
aku berharap bahwa surat yang sekali lagi tidak akan kutujukan secara langsung
padamu ini dapat mewakilkan aku pada dirimu, menyampaikan apa yang ingin disampaikan
namun sulit tersampaikan.
Wahai kamu lelaki pencinta alam yang menghabiskan
banyak malam minggu untuk mengencani puncak-puncak bumi. Tidakkah kamu tahu
bahwa aku mengawali bulan ini dengan berkunjung ke Solo dengan kereta untuk
menemui seseorang? Satu hari setelah aku melayangkan surat untukmu, di awal bulan
merah muda bulannya kamu, aku jauh-jauh ke Solo dengan kereta untuk menemui
seseorang.
Aku yakin betul kalau kamu mengetahuinya, hari itu,
ketika aku pergi aku sempat membaca status BBM mu, pun aku yakin, seribu persen
bahwa itu kamu tujukan untukku.
Mengingat apa yang kau tuliskan pada waktu itu,
bolehkah aku bertanya satu hal padamu? Ah, tidakkah aku ini terlalu banyak bertanya?
Padahal aku tak pernah memberi waktu padamu sekedar untuk menghembuskan nafas.
Aku terus-menerus nerocos mengatakan banyak hal, bertanya tentang banyak hal.
Jadi, pertanyaan yang ingin ku lemparkan padamu adalah;
Apa kamu merasa tidak
baik-baik saja kalau aku menemui laki-laki lain? Apakah kalau ada laki-laki
lain yang mendekatiku kamu akan baik-baik saja?
Hahaha… tidakkah pertanyaanku ini sedikit di luar
batas? Berapa kerutan yang ada di keningmu sekarang?
Aku, aku hanya mencoba mencari alasan untuk membuatku
yakin bahwa mungkinkah ini skenario lain yang diciptakan terbaik untukku dari
Sang Creator Hidup? Ah, harusnya aku tidak perlu menanyakan hal bodoh semacam
itu, bukan? Mengingat apa yang telah menjadi keputusan kita berdua. Keputusan
yang sama-sama kita semogakan untuk menjadi terbaik bagi kita berdua. Aku dan
kamu memilih jalan sendiri-sendiri.
Kamu membaca surat pertamaku dengan baik, bukan? huh?
Jadi, bagaimanapun tentu kamu tahu tentang kepastian rinduku, kan?
Itulah, itulah mengapa aku kembali melayangkan surat
untukmu, karena aku yakin kamu tahu tentang apa yang aku rasakan, dan.. ini
berkaitan dengan kepergianku ke Solo.
Hei, kamu yang membaca surat ini dengan kerutan lebih
dari selusin di kening. Sebelum skenario Yang Maha Oke bergerak terlalu jauh,
mungkin ada baiknya kalau aku menyampaikan hal ini padamu. Maka, pijatlah
sebentar kerutan di keningmu itu, rilekslah sebentar agar ketika kamu membaca
pernyataanku berikut ini, kamu dapat sedikit tersenyum, untukku.
Aku tak akan lagi menyebut tentang rinduku, karena ku
anggap kamu tahu hal itu lebih dari siapapun. Ini tentang bagaimana kedepannya
kita bisa bangun di pagi hari dengan senyum mengembang dan tanpa gemuruh sesak
yang memenuhi dada.
Tentang perjumpaanku dengan seseorang di awal bulan
merah muda bulannya kamu. Aku tak akan membahas panjang masalah itu padamu. Aku
hanya ingin kamu tahun, bahwa mungkin di suatu hujan di masa depan aku tidak
akan lagi meringkuk merapal namamu karena rindu yang menghujam dadaku. Mungkin di
masa depan rindu-rinduku tak sepenuhnya pasti untukmu, hingga mungkin tak akan
ada lagi rindu untukmu.
Maafkan aku yang terlalu sadis dan egois seperti ini. Baru
kemarin aku meminta izin untuk tetap merindukanmu, tapi hari ini dengan sangat
egois aku menyatakan bahwa mungkin di masa depan tak akan pernah lagi ada rindu
untukmu. Maafkan aku, aku hanya ingin kamu pun mempersiapkan diri, sehingga
ketika nanti kamu mendapati aku yang dibuncahkan rindu oleh orang lain, tidak
ada lagi pertanyaan yang membuat keningmu berkerut hingga lusinan. Itu saja.
Ohya, sebelum lupa, sampaikan salamku pada Ibumu, aku
kangen.
Marlina







0 komentar:
Post a Comment