Powered by Blogger.
RSS

Pak Guru Polisi



Teruntuk, teman dan partner in crime yang sedang dalam perjuangan pembaretan


Halo Bripda Ibnu Saptara Putra! Apa kabar? Masih sibuk di camp? Bagaimana prosesi pembaretan yang kamu bilang harus jalan kaki Minggir-Polda DIY itu? Ah, we need to meet soon, Ib!

Bripda Ibnu. Hahaha.. kamu tahun Ib, aku masih geli kalau harus manggil kamu pakai embel-embel Bripda. Nggak match aja rasanya. Hihi ^^

Ya, gimana, yaa… masih susah aja buat percaya kalau kamu udah beneran jadi anggota satuan Polisi Indonesia sekarang. Partner in crime yang selama hampir tiga tahun berjuang bareng-bareng buat jadi pendidik yang profesional tiba-tiba ngilang dan balik-balik udah pakai embel-embel Bripda. Gods must be crazy! Fyuh.

Well, gimanapun, selamat Ib! Bangga sama kamu! Jadi, nanti-nanti kalau aku kena tilang, aku tinggal hubungin kamu, aja :D tapi kalau aku ditilang sama yang cakean, kamu diem aja, ya. Nanti biar yang cakepan aku tilang balik, hatinya. Hahaha.

Aku nggak tahu mau nulis apaan buat kamu, Ib. Biasa juga chatting. Hahaha. Tapi oke, aku bakal usaha banget ini biar bisa nulis surat yang bagus buat kamu. Terpaksa sih. Hiks. Apa dayaku selain tetap berusaha kalau kamu nyatanya udah berhasil ngenalin aku ke Bripda yang lagi naik daun itu. Eaaaaa. Gajah dibalik batu!

Jadi, baca baik-baik suratku ini, oke?

Bripda Ibnu Saptara Putra calon guru yang sekarang sudah sah jadi polisi, selamat atas pelantikannya. Betapa aku iri sama kamu. Bagaimana mungkin seorang teman yang kuliahnya saja malas-malasan tak ubahnya diriku sekarang sudah punya gaji sendiri, jutaan pula. Beruntungnya kamu. Dengan pendidikan kepolisian yang kamu tempuh tak lebih dari satu tahun, kamu berhasil mendapatkan gelar Bripda. Tanpa SKRIPSI. Bripda Ibnu, sampai di titik ini, iriku padamu berada pada level maksimal. Bagaimana mungkin kamu ninggalin aku dalam pesakitan skripsi ini? Huh?

Temanku Bripda Ibnu, kapan kita terakhir bertemu? Di kampus entah kapan atau pagi itu ketika kamu menitipkan tugas? Entah, lama sekali yang pasti. Mungkin ada baiknya kita lekas bertemu, berbagi cerita tentang banyak hal. Apa itu polisi? Ah, aku sungguh perlu mengajukan sesi wawancara untukmu. Dan, errr tentang teman di satuanmu itu. Bripda yang sesaat lalu sempat naik daun, aku juga perlu melakukan sesi wawancara khusus denganmu untuk mengorek banyak info tentangnya. Hahaha.

Kamu ingat Bripda Ibnu, sewaktu kamu memintaku untuk menuliskan surat untukmu? Tiba-tiba saja, otakku ini merespon cepat. “Ambil, Mar. Sebagai imbalan minta kenalin ke Bripda itu.” Ah, segala tentang Bripda itu memang cepat sekali direspon oleh sensoriku. Maaf, karena aku tak segera menulis surat seperti permintaanmu. Salah sendiri akun twittermu hilang. Kan aku bingung bagaimana caranya tukang posku nanti mengirimkan surat untukmu. Tapi tenanglah, akan ku buat kamu membaca surat ini pokoknya. Ya, mau bagaimana lagi. Kamu udah duluan ngenalin aku ke Bripda itu, mau nggak mau aku harus, bukan? Aku nggak mau berhutang padamu, Bripda Ibnu!

Bripda Ibnu, bagaimana hari-hari awalmu sebagai polisi? Beratkah? Prosesi pembaretan yang kamu ceritakan beberapa hari lalu lancar? Ingat betul aku saat kamu cerita bahwa harus jalan dari Minggir sampai ke Polda Jogja. Bagaimana rasanya? Hmm.. naik motor saja aku butuh paling tidak 45 menit dengan kecepatan 50-60 Km. Sungguhkah kamu jalan kaki? Ah, kejamnya komadanmu yang memerintahkan itu.

Membayangkan jalan kaki dua kilometer saja, kakiku sudah lemas. Apa lagi ini, puluhan kilometer. Bripda Ibnu, apakah dunia polisi sekejam itu? Kamu memang baru sempat bercerita tentang jalan kaki membelah kota, tapi aku yakin, tentu banyak lagi hal yang menurutku mustahil yang harus kamu lalui di keseharianmu sebagi polisi. Apapun itu, bersabarlah, buddy. Semangat!

Hei calon guru yang sekarang jadi polisi, tidakkah kamu menyesal memutuskan menghentikan sebentar langkah menjadi guru dan berlari demi menjadi Bripda? Sebanyak apapun kamu mendengar keluhku tentang skripsi, sekarang aku yakin bahwa skripsi bukanlah apa-apa dibandingkan dengan hari-hari berat nan melelahkan yang harus kamu lalui sekarang. Tidakkah kamu menyesal dan ingin meninggalkan semua yang sedang kamu hadapi dan kembali mengejar skripsi saja?

Aku berdoa, bahwa kamu tidak akan pernah menyesalinya. Sekalipun. Sedetikpun. Seberat dan selelah apapun hari yang kamu hadapi dan lalui saat ini, percayalah bahwa kamu akan mampu menahklukannya. Bangganya aku mempunyai teman sepertimu.

Sebagai sorang teman yang sedikit banyak tahu perjuanganmu hingga hari ini aku hanya dapat memberikan dukungan serta doaku untukmu. Berharap segala hal baik melingkupimu dan seberat apapun langkahmu semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan berlebih untukmu hingga di podium kejayaan nanti. Ingatlah, bahwa kamu selalu punya sosok bawel-sok-tahu-tapi-kapanpun-siap-menjadi-pendengar untuk segala keluh kesahmu sepertiku. Jangan segan-segan menghubungiku ketika kecamuk menghinggapi hati dan pikranmu. Aku dengan segala sifat malaikat yang ada pada diriku siap untuk kamu bagi dengan kecamuk-kecamuk yang kamu rasakan. Hahah.

Jangan lupa untuk senantiasa bersujud pada Yang Memiliki Semesta ini. Mintalah selalu kekuatan padaNya. Teruslah bersemangat hingga semua cita-cinta-mimpimu berhasil kamu genggam. Dan jadilah polisi yang berbudi baik. Doaku ketika menuliskan surat ini, semoga suatu saat kamu dapat menjadi Kapolri yang baik tanpa harus menciptakan panggung sandiwara di negeri ini. Itu saja.


Tertanda,
Temanmu yang berbahagia atas invite-an seorang Bripda yang sedang naik daun :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

2 komentar:

Bukan Blog Biasa said...

Sedikit menghilangkan penat dengan tumpukan akasara yang tersusun rapi dalam suratmu :)

Marlina said...

terima kasih Fikri, semoga terhibur :)

Post a Comment