Kepada Bulan malam tadi.
Hallo, Bulan.. salam takzimku untuk kamu yang tiada
pernah absen menemani malam-malamku. Walaupun sesekali kamu terlihat malu-malu
dan enggan menampakkan diri, sehingga hanya pekat yang dapat aku rasakan.
Bulan, aku ingin berterimakasih kepadamu. Atas milyaran
sinar yang selalu kamu bagi di malam-malam gelapku. Atas kehangatan yang
senantiasa kamu selimutkan pada tubuh dinginku.
Bulan, malam tadi aku melihatmu. Bersama terpaan hawa
dingin di Sabtu Malam, seperti biasa, aku memburumu di balkon lantai dua. Malam
tadi aku beberapa kali mengerjapkan mata. Mencoba memastikan bahwa apa yang aku
lihat tidaklah salah. Kamu, cantik malam tadi. Sempurna dengan cincin hitam
raksasa yang melingkupimu. Aku terpana.
Bulan, bodohkah aku yang terus-menerus merindukannya?
Terus merindukannya hingga, ah, kamu tahu betul, bukan, seberapa lama aku
terus-menerus merindukannya? Meskipun bagiku, ini tidaklah terasa selama itu.
Bulan, kamu tahu, bukan? Bahwa selama ini nyatanya aku
hanya merindukannya. Hanya merindu. Sudah lama sekali, sejak entah kapan bahkan
aku telah lupa, aku sudah tak lagi pernah benar-benar mengharapkannya hadir
dalam kehidupanku. Meskipun nyatanya tetap saja, tetap saja aku selalu merindu.
Merindukan dirinya.
Bulan, malam tadi kamu lebih dari sekedar cantik. Kamu
menakjubkan dengan cincin hitam raksasa yang melingkupimu. Adakah kesempatan
bagiku untuk menapakkan kakiku padamu, one
day?
Bulan, akankah malam nanti kamu kembali datang seperti
malam tadi? Menakjubkan dengan cincin hitam raksasa yang melingkupimu? Kalau
iya, bolehkah aku merepotkanmu kembali untuk yang kesekian kalinya? Kuanggap
kau mengizinkan aku.
Bulan, dapatkah kau katakan padanya? Kepada dia si
pemilik rindu-rinduku. Malam nanti ketika kamu kembali datang dengan cincin hitam
raksasa yang melingkupi, katakan padanya bahwa aku masih selalu merindukannya.
Katakan padanya bahwa merindukannya masih menjadi ibadah rutin yang aku jalani
setiap harinya.
Katakan, bahwa aku pun hampir putus asa karena tak
kunjung menemukan alasan agar aku dapat berhenti merindukannya. Tidak. Bukan
berarti bahwa dengan terus merindukannya aku mengharapkannya kembali hadir
dalam hidupku. Memenuhi keseharianku. Aku hanya merindukannya. Merindukannya
dengan pasti.
Bulan, sampaikanlah pada si empu rindu-rinduku itu
dengan cincin hitam raksasamu seperti malam tadi. Bahwa aku tak lagi mengharapkan
kehadirannya dalam hidupanku. Aku hanya belum tahu bagaimana harus mengakhiri
untuk merindukannya. Maka, mintakanlah izin kepada si empu rindu-rinduku itu, agar
aku tetap dapat merindukannya. Hingga suatu saat nanti ketika aku telah
menemukan muara pemberhentian untuk merindukannya.
Takzimku,
Gadis yang selalu memburumu di malam-malam dingin.
PS: Selamat Merah Muda Bulannya Si Empu Rindu-Rinduku,
Bulan.







2 komentar:
Jarang-jarang nemu surat puitis gini, hebat kak :)
ah, terima kasih. masih belajar kok :)
Post a Comment