Powered by Blogger.
RSS

:*



Teruntuk @misteeerius


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh


Sebelumnya izinkanlah aku untuk memperkenalkan diri. Karena seperti yang selalu dikatakan oleh guru Bahasa Indonesiaku, bahwa tak kenal maka tak sayang. Maka, dengan mengenalku mungkin saja kamu bisa menyayangiku :D


Perkenalkan, aku seorang perempuan Jawa yang menghabiskan hampir dua puluh dua tahun hidup di Jogja. Panggil saja aku ini Marlina (@amarlinaa). Tentu kamu akan bertanya, siapa gerangan perempuan yang mengaku bernama Marlina ini. Baiklah, aku hanyalah satu dari sekian ratus ribu penikmat ocehanmu dalam 140 karakter. Dan sesekali aku menikmati deru suaramu di akun berlambang awan berwarna orange. Yang tentu saja aku luput dari perhatianmu.

Hai @misteeerius, bolehkah aku memanggilmu “mas”? Mas Faris, begitu? Seperti yang sudah aku katakan tadi, aku ini perempuan Jawa, jadi aku terbiasa memanggil laki-laki di atas usiaku dengan sebutan mas. Pun denganmu, aku akan memanggil mas, Mas Faris.

Jadi begini Mas Faris, sebagai satu dari sekian penikmat karyamu tentu aku sadar betul bahwa mengharapkan apa-apa darimu, selain karya yang terus bisa aku nikmati, tidaklah pantas bagiku. Mengingat kesibukan yang tak hentinya terus mencengkrammu, dan tentu saja kehidupanmu tidak sebatas pada layar-layar, bukan. Namun, sepertinya kali ini ada pengecualian untuk hal itu. Dan itu terjadi hari kemarin.

Mas Faris, tahukah bahwa kemarin menjelang sore kamu telah berhasil membuat seorang perempuan yang tidak lama lagi akan meniup lilin angka 22-nya salto-kayang-histeris hanya karena notification di HP-nya?

Bagaimana aku harus mengatakannya? Hanya karena sebuah “:*” darimu sebagai RT-an atas tweet pujianku untukmu, aku sudah lupa daratan, salto-kayang-histeris hingga awang-awang. Tidakkah aku ini berlebihan? Ah, kamu harus tahu rasanya di posisiku, Mas. Mendapatkan titik-dua-ceprik dari orang yang diam-diam kamu impikan, bagaimana aku harus mendeskripsikan rasa ini? Bolehkah aku kembali salto-kayang, saja?

Mas Faris dengan kacamata yang mempesona aku, perlu kamu ketahui bahwa selama ini aku bukanlah pecandu emoticon, karena bagiku bentuk-bentuk itu hanya akan membuang sia-sia karakter yang tersedia. Selain itu, bentuk-bentuk tersebut hanya membuat dunia maya semakin maya saja. Karena tentu hanya dengan “:*” kita tidak benar bisa merasakan sebuah ciuman, bukan? Ah, bicara apa aku ini. Tapi, sore kemarin, semuanya berubah bagiku, titik-dua-ceprik itu spesial untukku, lebih dari sekedar bentuk yang akan membuang sia-sia karakter.

Mas Faris yang dengan rendah hati telah menyambangi notification-ku dengan titik-dua-ceprik-nya, terimakasih seluas jagad raya aku sampaikan untukmu. Karena telah memberikan sore yang menakjubkan untukku yang sedang dirundung kegelisahan karena revisi skripsi. Sedikit doa aku selipkan di sepanjang sujudku Maghrib kemarin, semoga segala kesehatan baik jiwa, raga serta hati selalu membersamaimu dan kebahagian dunia walakhirah selalu melingkupimu. Sekali lagi terimakasih titik-dua-ceprik-nya.



Wasalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh



Salam,
Marlina.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

2 komentar:

Unknown said...

Eh siapa dia, Mas Faris? Sepertinya harus kepo-kepoin beliau dulu bair bisa muji dan dapet tweet kecup.

Marlina said...

hahaha selebtweet yang inshaAllah baik *sok tahu*

Post a Comment