Powered by Blogger.
RSS

Gemuruh Rindu



Teruntuk,
Kamu yang rindunya adalah kepastianku.


Hai, apa kabar?
Tidakkah kamu merindukan aku? Bukan, maksudku, masihkah kamu mengingatku? Ah, iya.. cukup lama memang kita tidak saling bertemu, bertukar kabar, saling perhatian, dan berbagi keceriaan,  seperti… dulu.

Aku ulangi, apa kabar? Semoga kesehatan dan kebahagiaan selalu membersamaimu.
Nyatanya, inilah satu-satunya kesemogaan yang masih berani aku semogakan untukmu.

Berkerutkah keningmu membaca suratku ini? Betapa aku ingin mengelus dan mengusap kerutan yang selalu muncul di keningmu tiap kali kebingungan melanda. Iya.. maaf.

Entah apa yang membawaku menuliskan ini padamu. Hanya saja, aku senang menuliskan tentangmu dan untukmu. Kamu tahu betul, bukan, kebiasaanku lima tahun terakhir?

Aku tak mampu menahan senyum sekarang. Lima tahun. Iya, lima tahun. Bukan waktu yang sebentar, bukan? Dan selama lima tahun ini, nyatanya kita tetap berpijak pada tanah yang sama, tanpa melakukan sedikitpun kemajuan.

Menyesalkan aku? Hahaha.. aku tak tahu apa yang kamu pikirkan di dalam kepalamu yang kokoh itu, tapi percayalah, aku tak pernah menyesal atas waktu lima tahun ini. Sungguh.

Peduli apa dengan mereka yang tak henti-hentinya mencemoohku. Mereka tak tahu alasan kenapa aku bertahan sejauh ini. Mereka hanya tak mengerti, dan aku pun tak mau ambil pusing dengan mereka. Yang membuatku sedih sebenarnya justru karena, kamu tak cukup mampu untuk mengerti kenapa aku bertahan.

Hahaha.. bolehkan aku tertawa, lagi? Tidakkah aku ini, lucu? Merasa sedih karena kamu tak mengerti aku, padahal aku sendiri pun tak pernah benar-benar dapat mengerti diriku sendiri. Silly? *sigh*

Wahai kamu yang lima tahun terakhir ini tak henti-hentinya aku rindukan. Ketahuilah, aku tak pernah benar-benar menyebut namamu dalam doa-doa ku di sepanjang sujud. Aku tak cukup memiliki tekad dan keberanian untuk melakukannya. Itukah alasan mengapa sedikitpun kita juga tak pernah mengalami kemajuan?

Aku hanya sesekali menyebut namamu ketika hujan deras mengahampiri bumi tempat aku berpijak. Karena, ketika bulir-bulir air itu menghujam bumi, aku merasakan hujaman yang berkali-kali lipat menembus dada menuju jantungku. Merindukanmu.
Dan ketika hujan semakin deras menerjang, aku akan meringkuk memeluk kedua kakiku dan sesekali merapal namamu. Berharap, dengan mendengar namamu sekalipun itu terucap dari bibirku sendiri, aku dapat mengurangi sedikit perih dan sesak di dadaku.

Pada akhirnya, ketika hujan tak pernah lagi absen menyambangi bumi, aku memilih berdamai denganya. Menjalin persahabatan yang tanpa aku sadari kapan dimulainya. Setidaknya, hujan deras mampu menyembunyikan gemuruhnya rindu yang tak berujung temu.

Terakhir, apa yang sebenar-benarnya ingin aku katakan padamu adalah terimakasih karena telah bersama-sama denganku merelakan lima tahun yang berharga tanpa suatu yang pasti. Setidaknya rindu-rindu yang ku layangkan padamu selalu pasti.



Tertanda,
Aku yang merindukanmu dengan pasti.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

2 komentar:

cewe alpukat said...

Aku juga mau dirundakan euy. :')

http://www.cewealpukat.me/

Marlina said...

merindukanlah agar dirindukan :)

Post a Comment