Teruntuk,
Kamu yang rindunya adalah kepastianku.
Hai,
apa kabar?
Tidakkah
kamu merindukan aku? Bukan, maksudku, masihkah kamu mengingatku? Ah, iya..
cukup lama memang kita tidak saling bertemu, bertukar kabar, saling perhatian,
dan berbagi keceriaan, seperti… dulu.
Aku
ulangi, apa kabar? Semoga kesehatan dan kebahagiaan selalu membersamaimu.
Nyatanya,
inilah satu-satunya kesemogaan yang masih berani aku semogakan untukmu.
Berkerutkah
keningmu membaca suratku ini? Betapa aku ingin mengelus dan mengusap kerutan yang
selalu muncul di keningmu tiap kali kebingungan melanda. Iya.. maaf.
Entah
apa yang membawaku menuliskan ini padamu. Hanya saja, aku senang menuliskan
tentangmu dan untukmu. Kamu tahu betul, bukan, kebiasaanku lima tahun terakhir?
Aku
tak mampu menahan senyum sekarang. Lima tahun. Iya, lima tahun. Bukan waktu
yang sebentar, bukan? Dan selama lima tahun ini, nyatanya kita tetap berpijak
pada tanah yang sama, tanpa melakukan sedikitpun kemajuan.
Menyesalkan
aku? Hahaha.. aku tak tahu apa yang kamu pikirkan di dalam kepalamu yang kokoh
itu, tapi percayalah, aku tak pernah menyesal atas waktu lima tahun
ini. Sungguh.
Peduli
apa dengan mereka yang tak henti-hentinya mencemoohku. Mereka tak tahu alasan
kenapa aku bertahan sejauh ini. Mereka hanya tak mengerti, dan aku pun tak mau
ambil pusing dengan mereka. Yang membuatku sedih sebenarnya justru karena, kamu
tak cukup mampu untuk mengerti kenapa aku bertahan.
Hahaha..
bolehkan aku tertawa, lagi? Tidakkah aku ini, lucu? Merasa sedih karena kamu
tak mengerti aku, padahal aku sendiri pun tak pernah benar-benar dapat mengerti
diriku sendiri. Silly? *sigh*
Wahai
kamu yang lima tahun terakhir ini tak henti-hentinya aku rindukan. Ketahuilah, aku
tak pernah benar-benar menyebut namamu dalam doa-doa ku di sepanjang sujud. Aku
tak cukup memiliki tekad dan keberanian untuk melakukannya. Itukah alasan
mengapa sedikitpun kita juga tak pernah mengalami kemajuan?
Aku hanya sesekali
menyebut namamu ketika hujan deras mengahampiri bumi tempat aku berpijak. Karena,
ketika bulir-bulir air itu menghujam bumi, aku merasakan hujaman yang berkali-kali
lipat menembus dada menuju jantungku. Merindukanmu.
Dan ketika hujan semakin
deras menerjang, aku akan meringkuk memeluk kedua kakiku dan sesekali merapal
namamu. Berharap, dengan mendengar namamu sekalipun itu terucap dari bibirku
sendiri, aku dapat mengurangi sedikit perih dan sesak di dadaku.
Pada
akhirnya, ketika hujan tak pernah lagi absen menyambangi bumi, aku memilih
berdamai denganya. Menjalin persahabatan yang tanpa aku sadari kapan
dimulainya. Setidaknya, hujan deras mampu menyembunyikan gemuruhnya rindu yang
tak berujung temu.
Terakhir,
apa yang sebenar-benarnya ingin aku katakan padamu adalah terimakasih karena
telah bersama-sama denganku merelakan lima tahun yang berharga tanpa suatu yang
pasti. Setidaknya rindu-rindu yang ku layangkan padamu selalu pasti.
Tertanda,
Aku
yang merindukanmu dengan pasti.







2 komentar:
Aku juga mau dirundakan euy. :')
http://www.cewealpukat.me/
merindukanlah agar dirindukan :)
Post a Comment